Jember Information Center

Hidup Bersama Badai

Tepuk tangan riuh belum habis terngiang di telinga saya saat melihat konser musik siswa siswi yang belajar di tempat saya. Itu akhir bulan Februari lalu. Keadaan masih normal tidak ada sesuatu hal yang mengkhawatirkan, meskipun saat itu nun jauh di Wuhan sudah ada wabah corona.
Awal Maret, saat Presiden Jokowi resmi mengumumkan bahwa si virus corona sudah ada di Indonesia. Di daerah keadaan masih normal saja. Namun dalam hitungan jam dan hari keadaan sudah semakin membuat khawatir. Saat diumumkan sekolah dilburkan, seolah masih tidak percaya wabah corona ini begitu cepatnya bergerak masuk ke semua sendi-sendi kehidupan kita semua.
Pertengahan Maret sosialisasi dari Pemerintah dan Kepolisian semakin gencar dengan membuat kawasan kawasan atur jarak. Mulai saat itu sendi ekonomi mulai kena demam, suhu tubuh perdagangan dan kegiatan ekonomi sudah menunjukkan 38 derajat Celsius. Effek virus corona sudah merambah sendi perekonomian kita semua. Ga pakai lama mendekati akhir Maret pusat perbelanjaan banyak ditutup, pasar tradisional di atur jam buka dan jam tutupnya. Rupanya si virus corona ini sudah masuk ke daerah kerongkongan sendi perekonomian kita semua.
Sampai awal April demam perekonomian tak kunjung selesai, nafas sudah mulai terengah-engah bahkan tidak sedikit pula yang sudah tidak kuat bernafas lagi dan menutup usahanya. Kalau usaha ditutup pastinya semua orang yang bekerja di tempat usaha itu juga harus ikutan mati.
Tangisan karyawan sebuah pusat perbelajaan yang di tutup dan di PHK tersebar di berbagai media online kita semua. Video pekerja harian seperti ojek online dan kawan kawan yang berteriak minta tolong tiap hari kita dengar. Dan banyak lagi kalau kita mau pelototi satu satu korban ekonomi dari virus corona ini.
Angin Surga pun berhembus saat Presiden Jokowi memahami bahwa virus corona ini jauh lebih ganas masuk ke sendi ekonomi daripada masuk ke dalam tubuh manusia itu sendiri. Joke joke banyak ditulis korban positif virus corona adalah sekian ribu orang, namun dampak ekonomi dari virus corona ini mematikan sekian puluh juta orang. Ternyata lebih banyak dampaknya ke sendi ekonomi kata joke tersebut.
Memberikan potongan bayar, memundurkan waktu bayar, menggratiskan biaya listrik, dan lain lain sudah disampaikan pak Presiden Jokowi. Semua bingung apakah iya atau iya tahhh? Masih bingung semua baik dari pihak pemberi kredit maupun nasabah yang kredit belum mempunyai jawaban pasti akan hal ini.
Semua itu sudah kita alami sampai saat ini, saat saya menulis tulisan ini. Lantas saya berpikir kalau kita semua larut di dalam masalah demi masalah, lama kelamaan kita sendiri akan ikut terjerumus ke dalam masalah tersebut. Saya harus bangkit! Kita semua harus bangkit!
Di group whatsApp Ikatan Pengusaha Jember saya melihat banyak ide gila dari kawan  pengusaha yang sama sama kena dampak virus corona ini namun tidak mau larut dalam kesedihan. Mereka kuat sekali bahkan membuat banyak terobosan di dalam saaat wabah ini. Jual masker? Itu semua orang bisa melakukannya, namun masker yang di sablon nama perusahaan, nama komunitas, nama instansi masih belum ada. Juragan jersey Jember melakukannya.
Itu salah satu dari salah banyak ide gila teman pengusaha yang ga mau ikutan mati di dalam wabah ini. Beberapa saran saat hidup di tengah badai, mungkin bisa kita terapkan.

Pertama yang bisa dilakukan adalah mengurangi pengeluaran. Makan minum di atur sedemikian rupa seirit mungkin. Lampu yang tidak perlu dimatikan, pompa akuarium di ganti mesin gelembung udara, apapun harus di lakukan intinya irit!

Ke dua posting di medsos, atau sampaikan ke teman, saudara dan lain-lain, barang-barang yang bisa cepat cair di jadikan uang, jual TV, kulkas, AC atau apapun yang bisa dijual.

Ke tiga menghubungi pihak bank, pihak leasing untuk menjadwal ulang kredit dan tanggungan kita menjadi lebih panjang sepanjang mungkin atau hanya bayar bunga saja, bahkan kalau bisa bayarnya di tunda. Ini sedang di proses oleh pihak mereka dan ada satu dua bank dan leasing yang sudah respon memberi jawaban. Ingat kalau saudara naik pesawat terbang, selalu di umumkan cara memakai masker oksigen adalah pakai buat saudara sendiri dulu baru membantu orang lain. Hal yang sama pikirkan kondisi keuangan saudara dulu baru sampaikan ke pihak lain.

Ke empat, cari terobosan bisnis yang bisa dilakukan. Teman saya tadi jual masker berlogo. Kalau saya usaha musik sudah pasti habis ga laku. Tapi saya lakukan ajakan work from home dengan membuka kelas online dan recording. Menjual peralatan rekaman dan pernak pernik online meeting dan work from home . Bahkan anak anak muda kaum milenial banyak yang jadi youtuber-youtuber baru di saat banyak waktu di rumahnya. Ada juga yang menjual kebutuhan pokok seperti beras, air minum, gas dan sebagainya bisa jadi alternatif bisnis yang masih bisa membuat dapur tetap ngebul. Pastinya bisnis obat, vitamin dan sejenisnya pasti laris manis. Penjahit masker bisa jadi orang kaya baru. Pembuat hand sanitiser dan disinfektan juga laris manis. Pedagang jahe, kayu manis, serai di pasar tradisional sampai kehabisan stok. Jual makanan via online, manfaatkan tagar anda di rumah saja, kami yang antar pesanan anda. Ga bisa masak? Coba jual telur ceplok dan indomie saja mudah dan murah lalu pasarkan. Kalau ga laku? Tidak masalah, minimal membuat saudara bisa tahu mana yang namanya wajan dan mana yang namanya minyak.

Ke lima jaga psikologi diri, jangan khawatir , sekali lagi jangan khawatir karena kekhawatiran tidak akan menambah sehasta saja kepada jalan hidup kita. Tetap bersyukur dengan kadar yang sama seperti saat saudara mendapat berkat. Hati yang gembira, bersuka cita karena hati yang gembira adalah obat yang manjur. Baca, pikirkan dan renungkan hal yang baik, jauhi berita buruk dan hoaks. Tetap tenang!

Ke enam tetap percaya dan yakin bahwa Tuhan masih tetap baik dan selamanya baik buat saudara dan saya. Biarkan meskipun banyak orang yang menanyakan keberadaan dimana Tuhan saat wabah ini datang. Tuhan yang di harapkan jadi Super Hero tidak nampak sama sekali. Tetap percaya dan bersyukur kalau sampai saat ini saudara dan saya masih di lindungi dan di berkati. Tuhan tak menjanjikan langit kan selalu biru, yang Tuhan janjikan adalah penyertaan di dalam hidup saudara semua. Sekalipun kita berjalan dalam lembah kekelaman Tuhan akan jadi gembala kita selamanya. Selamat berjalan di tengah wabah dan badai corona ini!

Semoga bermanfaat!

Agus Susanto MTh *
[email protected]

Hits: 200

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: